
Bantul (21/6). Remaja putri dan ibu-ibu LDII se-Kapanewon Kasihan dan Kapanewon Gamping mengikuti pengajian untuk meningkatkan keimanan dan pemahaman bagi perempuan dalam menjalankan ibadah. Kegiatan berlangsung di Masjid Al Barokah, Bantul pada Minggu (21/6/2026).
Dalam tausiahnya, Ustadzah Umi mengingatkan pentingnya bijaksana dalam menggunakan media sosial. Menurutnya, ruang digital tidak hanya menghadirkan informasi yang bermanfaat, tetapi juga berpotensi membawa dampak negatif apabila tidak digunakan dengan bijak.
“Media sosial merupakan ruang publik yang beragam. Ada cacian, ada juga ilmu. Karena itu kita harus mampu memilah dan memilih, mengetahui batasan, serta memastikan tujuan kita ketika membuka media sosial adalah mencari hal-hal yang bermanfaat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perempuan muslim perlu menjaga adab saat beraktivitas di ruang digital maupun kehidupan sehari-hari. Mengikuti perkembangan zaman, termasuk tren berpakaian, diperbolehkan selama tetap memenuhi ketentuan syariat Islam.
“Bagi perempuan muslim, berpakaian syari itu adalah kewajiban. Berarti ketika dikerjakan mendapat pahala, tidak dikerjakan mendapat dosa,” ujarnya.
Ustadzah Umi juga mengingatkan pentingnya mengamalkan hadist yang mendorong umat Islam meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat sebagai salah satu indikator baiknya keimanan seseorang.

Selain membahas etika bermedia sosial, ia juga mengulas pentingnya membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Menurutnya, keharmonisan rumah tangga dapat diwujudkan apabila suami dan istri sama-sama memahami serta menjalankan hak dan kewajibannya.
“Hak suami adalah memberi nafkah lahir dan batin kepada istri. Sementara kewajiban istri adalah menyenangkan suami. Suami istri jangan hanya menuntut haknya, karena kalau semuanya bisa menjalankan kewajibannya maka otomatis akan mendapatkan haknya,” jelasnya.
Ia menjelaskan, ada beberapa langkah untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Di antaranya, menekankan perlunya saling mengenal karakter, saling menolong, saling bermusyawarah, saling menyayangi karena Allah, saling memaafkan, dan saling mengantarkan pasangan menuju kebaikan.
Sementara itu, Ustadzah Ani Rizqina menyampaikan kajian hadis mengenai pentingnya menjaga kualitas ibadah, khususnya salat sebagai amalan pertama yang akan dihisab di akhirat. Ia mengingatkan para peserta agar memperhatikan kesucian, ketepatan waktu, dan pelaksanaan salat sesuai tuntunan syariat.
Ia juga menjelaskan hadist perempuan terkait haid, nifas, dan istihadhah yang kerap menjadi persoalan dalam pelaksanaan ibadah. Menurutnya, syariat telah memberikan ketentuan yang jelas mengenai tata cara beribadah pada kondisi tersebut, termasuk kewajiban mengganti puasa Ramadan yang ditinggalkan saat haid, sementara salat yang ditinggalkan pada masa haid tidak diwajibkan untuk diganti.
“Hal itu diperkuat dalam HR Muslim yang menunjukkan bahwa perempuan kurang agamanya, karena ada masa-masa tidak mengerjakan ibadah wajib. Untuk itu perbanyaklah ibadah sunah bahkan memiliki amalan yang rutin untuk menambal kekurangan ibadah kita,” tuturnya.
Melalui pengajian tersebut, LDII berharap remaja putri dan ibu-ibu memiliki bekal keagamaan yang semakin kuat, mampu memanfaatkan media sosial secara bijaksana, serta menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan keluarga maupun bermasyarakat.
DPD LDII BANTUL Lembaga Dakwah Islam Indonesia