LDII Bantul Gelar Sosialisasi GATI, Dorong Ayah Aktif dalam Pengasuhan Anak

LDII Bantul
Peserta dihadiri pengurus harian dan dewan penasihat DPD LDII Bantul, Ketua PC dan beberapa calon ayah.

Bantul (11/10). DPD LDII Kabupaten Bantul menggelar Sosialisasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) untuk memperkuat peran ayah dalam pengasuhan anak dan pembangunan keluarga. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Pondok Pesantren Nur Aisyah tersebut, dihadiri pengurus harian dan dewan penasihat DPD LDII Bantul, Ketua PC, serta sejumlah calon ayah, Sabtu (10/10/2026).

Ketua DPD LDII Kabupaten Bantul, Nanang Dwi Antoro, mengatakan ayah memiliki peran strategis dalam membangun keluarga, baik dari perspektif agama maupun psikologi. Kegiatan yang menjadi rangkaian Pra Musda IX LDII Bantul tersebut digelar bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Bantul serta DPRD Kabupaten Bantul.

“Seorang ayah tidak hanya bertanggung jawab memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membimbing istri dan mendidik anak-anaknya,” ujar Nanang.

Menurutnya, peran tersebut perlu diwujudkan melalui kehadiran, perhatian, dan keterlibatan ayah dalam kehidupan keluarga. Tuntutan pekerjaan yang menyita waktu di luar rumah tidak seharusnya mengurangi tanggung jawab ayah dalam mendampingi istri dan anak.

LDII Bantul
Sekretaris Komisi D DPRD Bantul, Herry Fahamsyah, memaparkan materi peran ayah dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga.

Sekretaris Komisi D DPRD Kabupaten Bantul, Herry Fahamsyah, menegaskan pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan, tumbuh kembang anak, dan pencegahan stunting. Ia menyebut peran tersebut juga menjadi perhatian dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 13 Tahun 2020 tentang Pembangunan Keluarga.

“Ayah berperan dalam seribu hari pertama kehidupan untuk mencegah stunting. Yang perlu dilakukan adalah mendukung gizi ibu hamil, menstimulasi anak sampai usia dua tahun, dan rutin memantau pertumbuhan anak,” jelas Herry.

Ia menambahkan, ayah dapat berkontribusi dalam ketahanan pangan keluarga melalui langkah sederhana, seperti menanam sayuran di rumah, membuat kolam ikan, dan memelihara ayam untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

“Langkah yang bisa kita ambil mulai hari ini adalah hadir lebih dekat untuk istri dan anak serta menjadi teladan bagi keluarga dan tetangga. Mari wujudkan Bantul bebas stunting, dimulai dari rumah kita sendiri,” ajaknya.

LDII Bantul
Perwakilan BKKBN DIY, A. Utomo Budi Santoso, menjelaskan GATI hadir untuk merespons persoalan fatherless.

Sementara itu, perwakilan BKKBN DIY, A. Utomo Budi Santoso, menjelaskan GATI hadir untuk merespons persoalan fatherless, yakni kondisi ketika anak tidak memperoleh kehadiran dan keterlibatan ayah secara memadai, baik secara fisik maupun emosional. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti perceraian, kematian ayah, atau minimnya keterlibatan ayah dalam kehidupan anak.

Menurut Utomo, GATI diluncurkan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk mendorong keterlibatan aktif ayah dan calon ayah dalam pengasuhan anak serta pendampingan remaja dan praremaja.

“Tujuannya agar tercipta generasi yang berkualitas, memiliki karakter mandiri, bertanggung jawab, optimistis, dan berdaya saing, siap menghadapi tantangan masa depan serta berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya,” paparnya.

Utomo menjelaskan, terdapat empat indikator ayah teladan, yaitu interaksi, aksesibilitas, tanggung jawab, dan keterlibatan. Penerapannya antara lain mendampingi anak belajar, menanyakan kabar dan aktivitas anak, memenuhi hak legalitas anak, serta mengajak anak berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan.

LDII Bantul
Perwakilan Konsorsium Komunitas Penggiat Ayah Teladan Indonesia, Muhammad Nur Amin, memperkuat peran ayah dari perspektif agama Islam.

Dari perspektif agama, perwakilan Konsorsium Komunitas Penggiat Ayah Teladan Indonesia, Muhammad Nur Amin, menekankan bahwa ayah memiliki tanggung jawab menanamkan iman dan adab kepada anak. Dalam Islam, ayah juga berperan sebagai qawwam atau pemimpin keluarga yang bertanggung jawab secara spiritual, emosional, dan material.

“Akhlakul karimah dan teladan ayah tidak akan mampu tergantikan dengan kecanggihan teknologi apa pun,” tegasnya.

Nur Amin menambahkan, kurangnya keterlibatan ayah dapat membuat anak kehilangan pendampingan dalam pembentukan karakter dan pemahaman agama. Karena itu, penguatan peran ayah perlu dilakukan melalui berbagai pendekatan yang melibatkan keluarga, komunitas, dan lingkungan pendidikan.

Ia memaparkan empat pilar pendekatan GATI. Pertama, layanan konseling dan edukasi keluarga melalui platform serta program pendampingan. Kedua, Konsorsium Komunitas atau Kompak Tenan untuk memperkuat jejaring penggiat ayah teladan.

Ketiga, Desa/Kelurahan Ayah Teladan atau Dekat sebagai implementasi program di Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB). Keempat, Sekolah Bersama Ayah atau Sebaya untuk melibatkan ayah dalam pemantauan tumbuh kembang dan proses belajar anak di sekolah.

Melalui sosialisasi ini, DPD LDII Kabupaten Bantul berharap pemahaman tentang GATI dapat mendorong para ayah lebih aktif menjalankan perannya dalam keluarga. Keterlibatan ayah diharapkan tidak hanya memperkuat pengasuhan dan pembentukan karakter anak, tetapi juga mendukung terwujudnya keluarga berkualitas serta generasi yang sehat, mandiri, dan berakhlak mulia.

Check Also

Semarakkan Pra-Musda IX DPD LDII Bantul, PC LDII Bantul dan Sewon Gelar Turnamen Voli Sewon Smash Cup 2026

Bantul (10/9) – Gelora semangat keolahragaan mewarnai ikhtiar warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *